Kamis, 07 Mei 2015
Sejarah : Sejarah Kerajaan Kalingga (Holing)
Kembali
lagi kita untuk mengingat sejarah tentang Kerajaan-kerajaan indonesia
yakni Sejarah Kerajaan Kalingga, tahukah anda kerajaan Kalingga??.. .
Kerajaan kaling biasa disebut oleh orang cina Kalingga dengan Istilah
Holing. Kerajaan Kaling berkembang kira-kira abad ke 7-9 M. Letak Kerajaan Kaling : Kerajaan
ini diperkirakan terletak di Jawa Tengah. Menurut berita di Cina, di
sebelah timur Kerajaan Kaling ada Po-Li (Pulau Bali), di sebelah barat
Kalingga ada To-Po-Teng (Sumatera). Di sebelah Utara Kalingga ada
Chen-La (Kampuchea) dan di sebelah selatan berbatasan dengan Samudra
Hindia. Akan tetapi, tempat Kerajaan Kaling memang belum dapat
dipastikan. Ada yang memperkirakan di Kecamatan Kaling sebelah utara
Gunung Muria.
Sumber Sejarah Kalingga : Sumber utama sejarah Kerajaan Kalingga
adalah berita Cina, yaitu berita dari Dinasti Tang. Sumber lain adalah
Prasasti Tuk Mas di lereng Gunung Merababu.
Pemerintahan dan Kehidupan Sosial Ekonomi : Raja yang paling
terkenal dari Kerajaan Kalingga adalah seorang raja wanita yang bernama
Ratu Sima. Ia memerintah sekitar tahun 674 M. Ratu Sima dikenal sebagai
raja yang tegas, jujur, dan sangat bijaksana. Hukum dilaksanakan dengan
tegas dan seadil-adilnya. Rakyat patuh terhadap semua ketentuan yang
sedang berlaku. Untuk mencoba kejujuran rakyatnya, Ratu Sima pernah
mencoba dengan meletakkan pundi-pundi di tengah jalan. Ternyata sampai
waktu lama tidak ada yang mengusik pundi-pundi itu. Akan tetapi, pada
suatu hari ada anggota keluarga istana yang sedang berjalan-jalan
menyentuh pundi-pundi tersebut dengan kakinya. Hal itu diketahui Ratu
Sima. Anggota keluarga itu dinilai salah dan harus diberi hukuman potong
kaki. Kisah ini menunjukkan begitu tegas dan adilnya Ratu Sima
sekalipun seorang perempuan. Ia tidak membedakan antara laki-laki atau
perempuan, antara rakyat dan anggota kerabatnya sendiri dalam menerapkan
hukum.
Agama yang dianut oleh penduduk Kalingga : pada umumnya adalah
Buddha. Agama Buddha berkembang pesat. Bahkan, pendeta Cina yang bernama
Hwi-Ning (Hui-Hing) datang di Kalingga dan tinggal selama tiga tahun.
Selama di Kalingga, ia menerjemahkan kitap suci agama Buddha Hinayana ke
dalam bahasa Cina. Dalam usaha menerjemahkan kitab itu Hwi-Ning dibantu
oleh seorang pendeta Kalingga bernama Jnanabhadra. Dengan
kepemimpinan raja yang adil, rakyat hidup teratur, aman, dan tenteram.
Mata pencaharian penduduk umumnya adalah bertani karena wilayah Kalingga
subur untuk pertanian. Selain itu, penduduk juga melakukan perdagangan,
termasuk perdagangan dengan luar, seperti India dan Cina.
0 komentar:
Posting Komentar